Karyawan SPPG Kuningan Korbankan Diri Cegah Babi Hutan Seruduk Bocah

5 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang pria yang juga relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (Jabar) mengorbankan diri agar babi hutan yang turun ke permukiman tidak menyeruduk anak-anak.

Peristiwa tersebut pun terekam kamera amatir dan viral di media sosial. Dalam rekaman video yang viral itu terlihat seorang pria menahan babi agar tidak lepas. Mengutip dari detikJabar, peristiwa itu terjadi pada Minggu (3/8) siang, sekitar pukul 11.30 WIB.

Adapun pria yang menahan babi itu adalah Anasikin attau Anas (28), warga Desa Subang yang juga bekerja di SPPG setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anas mengaku saat itu dia yang berada di rumah mendengar suara seperti tabrakan motor sehingga segera keluar. Dia melihat kakaknya sedang dikjar babi hutan, binatang itu pun berlari mengarah ke area anak-anak. Anas pun segera berinisiatif menahan laju babi itu.

"Awalnya mah si babi lagi diburu di hutan, larinya ke kampung, terus nabrak motor lah, dikirain orang kecelakaan, soalnya pas udah nabrak motor tuh ada suara "ya Allah tolong". Nah si teteh niatnya mau bantuin takutnya yang jatuh dari motor tuh parah, eh taunya babi. Langsung ngejar lah si babi. Liat si teteh di kejar babi langsung saya tahan babinya, soalnya kalo nggak di tahan mah si teteh malah yang kena, mana ada Anak-anak juga, soalnya kejadiannya di depan rumah banget," tutur Anas, Selasa (4/8) dikutip dari detikJabar.

Anas kemudian tersungkur saat mencoba menahan babi tersebut. Dia mengaku sebelum tersungkur sudah menahan hewan liar tersebut sekitar 10 hingga 15 menit sampai warga berdatangan. Dia baru bisa lepas dari 'pertarungan' dengan babi hutan tersebut ketika warga sudah mulai berdatangan dan menusuk hewan liar tersebut dengan menggunakan tombak. 

Anaspun mengaku kakinya terkena taring babi tersebut. Dia pun terpaksa izin tak masuk bekerja ke SPPG di Subang.

"Kalau untuk luka mah, ada 3 titik yang lukanya bisa dibilang cukup parah, tapi kata nakesnya ini mah enggak apa-apanggak dijahit juga katanya. Cuman belum disuntik, soalnya babinya harus hidup buat diambil sampelnya katanya, tapi karena babinya udah nggak ada. Jadi sampe sekarang belum disuntik. Katanya sudah diajukan ke pusatnya nanti kalau obat sunti nya sudah ada langsung dikabari. Kerjanya Relawan MBG di desa saya. Kemungkinan mah minimal izin kerja seminggu," tutur Anas.

Anas mengaku bahwa ia melakukan aksi nekat tersebut didorong karena ingin melindungi kakaknya dan anak-anak yang ada di sekitar rumahnya agar tidak diseruduk babi.

"Semisalnya teteh saya yang kena atau anak anak yang kena, pasti bakalan lebih parah dari saya. Harapannya mah paling semoga kedepannya nggak ada korban lainnya yang seperti saya, semoga cukup sampai saya saja sudah, jangan ada lagi korban lainnya," tutur Anas.

Sementara itu, Kasi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Desa Subang, Sujana mengaku bersyukur Anas tidak mendapat luka yang begitu parah setelah berusaha menahan babi hutan tersebut.

"Iya (relawan MBG). Alhamdulillah tadi sehabis jenguk, cuman dia masih sulit jalan karena di dampal kakinya itu ada luka, jadi kalau ditekan agak sakit katanya gitu. Untungnya enggak sampai dijahit, " kata Sujana.

Penjelasan BKSDA

Sebagai informasi, kejadian babi hutan masuk ke permukiman bukan hanya terjadi di Kuningan baru-baru ini. Kejadian sama juga terjadi di Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat pun buka suara.

"Banyak faktor penyebabnya, di antaranya sumber air, atau karena banyaknya pemburu liar masuk ke hutan terdekat," kata Humas BBKSDA Jabar Ery Mildrayana, Selasa dikutip dari detikJabar.

Menurutnya, aktivitas manusia di dalam hutan juga menganggu keberadaan babi hutan, atau babi hutan sedang mencari tempat jelajah baru.

Selain itu, konflik satwa dan manusia berpotensi terjadi selama wilayah hutan berdekatan dengan permukiman.

"Sepanjang berdekatan dengan hutan, memungkinkan. Satwa liar hakikatnya dia harus bergerak dan berkelompok. Mereka punya wilayah jelajah juga, bisa juga terpisah dari kelompok atau mencari kelompoknya. Tapi itu hanya dugaan sesuai karakter atau kebiasaan satwa liar ya," jelasnya.

"Untuk memastikannya di antaranya perlu dilihat keberadaan hutan terdekat desa tersebut," sambung Ery.

Baca berita lengkapnya di sini.

(tim/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |