Kisah Inspiratif di Lanny Jaya: TNI Sulap Ruangan Terbengkalai Jadi Sekolah Darurat untuk Anak Papua

11 hours ago 8

LANNY JAYA - Di tengah medan penugasan yang penuh tantangan, prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 742/Satya Wira Yudha (SWY) menunjukkan bahwa pengabdian kepada negara tidak hanya diwujudkan melalui penjagaan keamanan wilayah. Di Kampung Wunabunggu, Distrik Melagi, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, para prajurit TNI menghadirkan secercah harapan bagi generasi muda dengan menyulap sebuah ruangan kosong yang terbengkalai menjadi sekolah darurat.

Aksi sosial yang berlangsung pada Rabu (24/6/2026) itu dilakukan bersamaan dengan kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos), Pembinaan Teritorial (Binter), serta pembagian bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.

Langkah tersebut berawal dari keprihatinan personel Satgas terhadap keterbatasan sarana pendidikan yang dihadapi anak-anak di wilayah tersebut. Melihat tingginya semangat belajar para siswa, prajurit berinisiatif membersihkan dan menata ruangan yang selama ini tidak terpakai agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat belajar sementara.

Komandan Pos (Danpos) TK Wunabunggu, Letda Infanteri Mathias David Metikores, mengatakan bahwa tugas prajurit di daerah penugasan tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat merasakan manfaat dari kehadiran TNI.

"Tugas kami bukan hanya menjaga wilayah tetap aman, tetapi juga merangkul masyarakat dan membantu menjaga masa depan generasi muda. Kami melihat semangat belajar anak-anak Wunabunggu sangat besar meski fasilitas yang tersedia sangat terbatas. Karena itu kami berinisiatif mengubah ruangan kosong ini menjadi sekolah darurat agar mereka tetap bisa belajar dengan nyaman, " ujar Mathias.

Menurutnya, pendidikan merupakan investasi penting bagi masa depan Papua. Oleh sebab itu, setiap peluang untuk mendukung proses belajar anak-anak harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Selain memperbaiki fasilitas belajar, Satgas Yonif 742/SWY juga menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial ekonomi warga.

Kegiatan tersebut melibatkan 15 personel yang dipimpin Komandan Tim (Dantim) 3, Sertu Yusten Zakarias, serta mendapat pengamanan dari 10 personel yang dipimpin Praka Abdulharis.

Dengan mengedepankan pendekatan humanis, para prajurit berinteraksi langsung dengan warga, mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat, sekaligus mempererat hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Komandan Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 742/SWY, Letkol Infanteri Dedi Risdiantoro, S.I.P., memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan anggotanya di lapangan.

Menurutnya, prajurit yang bertugas di Papua memiliki tanggung jawab besar, tidak hanya sebagai penjaga kedaulatan negara tetapi juga sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Prajurit Yonif 742/SWY mengemban misi yang mulia. Mereka adalah pelindung wilayah sekaligus sahabat masyarakat yang harus peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Mengubah ruangan tidak terpakai menjadi sekolah darurat merupakan inisiatif luar biasa. Begitu pula bantuan sembako yang diberikan, itu adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat, " tegas Dedi.

Ia menambahkan bahwa kehadiran TNI di Papua harus selalu memberikan rasa aman, manfaat nyata, serta meninggalkan jejak kemanusiaan yang positif bagi masyarakat.

Kehadiran personel Satgas Yonif 742/SWY mendapat sambutan hangat dari masyarakat Kampung Wunabunggu. Warga mengaku terbantu dengan berbagai program sosial yang selama ini dilakukan para prajurit.

Tokoh masyarakat Kampung Wunabunggu, Oga Kiwo, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan TNI kepada masyarakat setempat.

"Kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI. Kehadiran mereka membuat masyarakat merasa aman dan terbantu. Tidak hanya menjaga keamanan, mereka juga peduli terhadap kesehatan, ekonomi, dan pendidikan anak-anak kami, " ujarnya.

Menurutnya, pembangunan sekolah darurat tersebut menjadi harapan baru bagi anak-anak kampung yang selama ini memiliki keterbatasan sarana belajar.

Rangkaian kegiatan yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga setempat itu berlangsung aman dan penuh keakraban. Setelah seluruh kegiatan selesai, personel Satgas kembali ke Pos TK Wunabunggu dalam keadaan aman.

Di balik tugas menjaga wilayah perbatasan, langkah sederhana yang dilakukan para prajurit telah menghadirkan dampak besar bagi masyarakat. Bukan hanya membangun ruang belajar, tetapi juga menumbuhkan optimisme bahwa masa depan generasi Papua dapat terus diperjuangkan melalui pendidikan, kepedulian, dan kebersamaan.

(PERS)

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |