Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Kabupaten Pati menetapkan kejadian luar biasa (KLB) usai ratusan siswa dari sejumlah sekolah di Kecamatan Gembong diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan penanganan siswa yang diduga keracunan secara maksimal. Saat berita ini ditulis, diberitakan detikJateng, siswa-siswa yang dilaporkan mengalami keracunan MBG itu sudah berasal dari tiga sekolah--sebelumnya hanya satu sekolah.
"Karena menyangkut keselamatan korban dan (jumlah penderita ratusan) kasus tersebut masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB)," kata Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra dalam keterangan resmi kepada wartawan yang diterima Kamis (10/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chandra mengatakan pembiayaan penanganan dalam kondisi darurat dapat menggunakan belanja tidak terduga. Apalagi ini menyangkut keselamatan korban dan kasus tersebut masuk dalam kategori KLB.
"Prioritas kami saat ini adalah memastikan seluruh siswa dan guru yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan serta memastikan kondisi mereka terus terpantau," jelas dia.
Chandra mengatakan Pemkab Pati terus melakukan pendataan dan sinkronisasi jumlah korban.
Selain itu, dia memastikan Pemkab Pati juga bakal mengawal proses investigasi untuk memastikan penyebab kejadian dapat diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan resmi.
"Kami akan terus mengawal proses investigasi dan bersama pihak terkait melakukan evaluasi terhadap proses distribusi serta keamanan pangan, dengan tetap menunggu hasil investigasi resmi," jelas Chandra.
Chandra meminta maaf atas kejadian dugaan keracunan yang menimpa ratusan siswa ini. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang lagi.
"Sekali lagi mohon maaf kepada orang tua murid, kepada masyarakat Kabupaten Pati, kami akan terus berupaya masalah ini bisa tertangani dengan segera dan masalah pengobatan semua ditanggung oleh pemerintah Kabupaten Pati," jelas Chandra.
Tiga sekolah alami keracunan MBG
Berdasarkan data yang diterimanya pada Kamis pagi tadi, Chandra mengatakan data terbaru per pagi ini korban dugaan keracunan dari SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati yang masih dirawat inap di RSUD Soewondo dan RS Mitra Bangsa ada sekitar 45 anak.
"Totalnya 45 siswa yang masih dirawat inap di rumah sakit," ujarnya.
Sebelumnya terdata di SMP Negeri 1 Gembong terdapat 103 siswa dan 13 guru mengalami mual dan diare. Kemudian di MTS Negeri 3 Pati ada 127 siswa dan 30 guru yang mengalami mual dan diare setelah menyantap MBG.
Namun, pada Kamis siang ini, korban keracunan dilaporkan juga terjadi di sekolah lain. Sehingga total kini ada tiga sekolah yang melaporkan siswa-siswinya mengalami keracunan MBG di Kecamatan Gembong tersebut.
Sekolah ketiga itu adalah MTs Manbaul Ulum yang berada di Desa Bermi, Kecamatan Gembong. Setidaknya ada belasan siswa dari MTS Manbaul Ulum, Desa Bermi, Kecamatan Gembong, yang dibawa ke rumah sakit karena mengalami mual hingga diare.
"Total 11 siswa yang dibawa ke rumah sakit," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan MTS Manbaul Ulum Bermi Gembong, Ahmadi Rozaq, Kamis siang ini dikutip dari detikJateng.
Dia menjelaskan belasan siswa ini dibawa ke sejumlah rumah sakit di Pati. Ada 8 siswa di RS KSH, 2 siswa dibawa ke RSUD Soewondo, dan 2 siswa dibawa ke RS Mitra Bangsa. Belasan siswa ini mengalami mual dan diare setelah menyantap MBG pada hari Selasa (8/9) kemarin. Akan tetapi reaksi dugaan keracunan baru dilaporkan Rabu (9/9) kemarin.
"MBG hari ini tidak ada, itu MBG hari Selasa (8/9) terus reaksi hari tadi malam," jelas Ahmadi, "Ada yang mual, pusing dan diare banyak variasinya."
Sebelumnya diakui ada siswanya yang mengalami mual dan pusing yang sempat berobat ke puskesmas. Setelah diberikan obat kondisinya berangsur membaik. Akan tetapi jumlah siswa tersebut belum ada data pastinya.
"Ada yang kemarin sudah diberikan obat ke IGD terus kondisinya baik. Ini saya cek semua, beberapa kelas ada 6 kelas, terus agak lemas terus saya bawa ke puskesmas," kata dia.
Ahmadi mengatakan siswanya ini menerima MBG dari SPPG Pati Gembong 1. SPPG ini sama dengan yang menyalurkan MBG ke SMP Negeri 1 Gembong dan MTS Negeri 3 Pati, di mana ada ratusan siswa dari dua sekolah itu yang mengalami keracunan usai menyantap MBG.
"Menu nasi bakar, ini sama SPPG Pati Gembong 1 sama SMP Negeri 1 Gembong, dan MTS Negeri 3 Pati," jelasnya.
Dia mengatakan jumlah siswa yang ada MTS tersebut totalnya ada 205 siswa. Dari jumlah itu belasan siswa kini tengah dirawat di rumah sakit karena diduga keracunan usai santap MBG.
"Menerima semua, 205 siswa menerima MBG dari penerima," jelasnya.
SPPG disetop sementara
Selain menetapkan KLB, Pemkab Pati pun telah menutup sementara SPPG Pati Gembong 1 setelah ratusan siswa dari sejumlah sekolah di Kecamatan Gembong keracunan MBG. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Joko Leksono Widodo, mengatakan penutupan dilakukan selama 3 bulan ke depan.
"Per kemarin (Rabu) di-suspend dulu kita teliti dari awal, biar tidak ada trauma lagi tentang MBG," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Joko Leksono Widodo, kepada wartawan ditemui di RSUD Pati, Kamis siang dikutip dari detikJateng.
"Minimal 3 bulan paling lama 6 bulan, kemudian ada pemeriksaan ulang dari Dinas Kesehatan tentang persyaratan awal lagi," sambungnya.
Lebih lanjut, kata Joko, Dinkes akan melakukan evaluasi terhadap SPPG yang memproduksi MBG tersebut.
"Kita teliti lagi apakah dia layak untuk kemudian berizin lagi karena sementara di-suspend, pending dulu ya tidak boleh produksi lagi karena masih pengawasan," jelasnya.
Menurutnya Dinkes Pati selalu mengingatkan SPPG agar selalu memperhatikan durasi penyimpanan MBG tidak lebih dari 4 jam. Sebab jika lebih berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri
Kesaksian orang tua
Dari puluhan siswa dua sekolah di Kecamatan Gembong yang masih dirawat karena keracunan MBG, salah seorang di antaranya dilaporkan sesak napas dan pingsan.
"Kondisinya sempat enggak sadar, terus dingin banget sampai mulai hangat, keluar air mata, terus saya tanya ketika sadar bilang 'tidak kuat', bayangan hilang-ada, hilang-ada seperti itu," jelas salah satu orang tua siswa SMP Negeri 1 Gembong, Andira kepada wartawan di RSUD Pati, Kamis ini dikutip dari detikJateng.
Andira menyampaikan, awalnya mendapatkan laporan jika anaknya siswa kelas VIII mengalami mual dan lemas setelah menyantap MBG. Saat itu anaknya dibawa ke rumah sakit dengan kondisi terpasang oksigen.
"Banyak murid yang bisa pulang, tapi sepertinya kayak imunnya berpengaruh juga," lanjut dia.
Andira menambahkan anaknya pada Selasa (8/9) kemarin sempat mengalami diare. Anaknya juga mengalami mual setelah menyantap MBG di sekolah pada Selasa kemarin.
Dia mengaku anaknya trauma dan tidak mau menyantap MBG. Ia berharap agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.
"Anaknya trauma, jadi kita tidak memaksakan mau makan lagi apa tidak. Semoga ke depan tidak terulang lagi, benar dipastikan layak dikonsumsi oleh anak gitu," jelasnya.
Belum ada pernyataan dari Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penetapan KLB ini. CNN Indonesia sudah berupaya menghubungi Kepala BGN Sudaryono, Wakil Kepala BGN sekaligus Juru Bicara BGN Agustina Arumsari, dan Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati namun belum mendapat respons.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/kid)

3 hours ago
2

















































