Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar program edukasi lingkungan berbasis pengalaman langsung (experiential learning) bertajuk Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Edisi Ketiga pada Kamis (6/8).
Dalam program ini, sebanyak 13 pelajar Sekolah Menengah Atas dari berbagai sekolah di Jabodetabek diajak meninjau langsung Depo MRT Lebak Bulus di Jakarta Selatan serta area konstruksi bawah tanah proyek MRT Fase Kedua di Silang Monas, Jakarta Pusat.
Kunjungan lapangan ini bertujuan memperdalam pemahaman generasi muda mengenai urgensi transportasi modern yang rendah emisi dan berkelanjutan sebagai solusi nyata dalam mengatasi krisis ekologi serta kemacetan perkotaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah ini menjadi penegasan perspektif KLH/BPLH bahwa pengendalian lingkungan di wilayah perkotaan membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda yang memahami keterkaitan antara infrastruktur transportasi modern, pengurangan emisi karbon, dan tata ruang yang berwawasan lingkungan.
Teknologi Rendah Emisi dan Efisiensi Energi Moda Raya Terpadu
Dalam peninjauan di Depo Lebak Bulus yang merupakan fasilitas penyimpanan, perawatan, dan pengoperasian rangkaian kereta, para peserta mempelajari bagaimana MRT Jakarta beroperasi sebagai transportasi massal ramah lingkungan.
Moda transportasi ini mengandalkan pasokan daya Listrik Aliran Atas dan sistem operasi berbasis komunikasi modern (Communication Based Train Control) yang menjamin efisiensi energi serta tidak menghasilkan emisi gas buang langsung di koridor perkotaan.
Kehadiran transportasi publik berkinerja tinggi dengan tingkat ketepatan waktu lebih dari 99 persen ini menjadi representasi penting dalam menekan penggunaan kendaraan pribadi, sekaligus berkontribusi nyata terhadap penurunan emisi gas rumah kaca di Ibu Kota.
"MRT adalah kerja sama government to government antara Jepang dan Indonesia. Kita ingin mencontoh standar dan kualitas Jepang yang baik dalam pengelolaan transportasi kereta api di dunia, termasuk kedisiplinannya," jelas Head of Corporate Communication and Branding Department, PT MRT Jakarta (Perseroda), Angga Satria Perdana.
Ketua Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan, menjelaskan bahwa kunjungan ke MRT Jakarta dirancang agar anak muda dapat melihat langsung pembuktian praktik pembangunan berkelanjutan.
"KELANA adalah Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda yang tujuannya ingin memberikan pengalaman langsung kepada anak muda mengenai proyek-proyek berkelanjutan di Indonesia, salah satunya adalah MRT. Di sini kita belajar bahwa Jakarta memiliki transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta menjadi representasi pengembangan transportasi umum di Indonesia," ujar Romi Setiawan.
Pengembangan Berorientasi Transit untuk Kota yang Layak Huni
Selain teknologi kelistrikan dan operasi kereta, KLH/BPLH juga memperkenalkan konsep Pengembangan Berorientasi Transit (Transit Oriented Development atau TOD) yang diterapkan oleh MRT Jakarta. Pembangunan kawasan TOD berbasis rel ini menjadi katalis regenerasi perkotaan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, seperti:
1. Pengurangan Dampak Lingkungan: Mengurangi jejak karbon perkotaan dengan memprioritaskan integrasi antarmoda angkutan umum massal dan fasilitas pejalan kaki;
2. Peningkatan Kualitas Hidup: Menghadirkan ruang terbuka hijau publik serta kawasan yang layak huni (livable) dan menyenangkan (lovable) bagi masyarakat;
3. Ketahanan Infrastruktur: Membangun infrastruktur perkotaan yang tangguh serta responsif terhadap risiko bencana dan dampak perubahan iklim.
Melalui kunjungan ke area konstruksi proyek MRT Fase Kedua di Silang Monas, para peserta juga melihat secara langsung bagaimana prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) diterapkan secara ketat dalam proyek infrastruktur berskala besar.
Putri Indonesia Lingkungan 2026, Victoria Titisari Kosasieputri, yang turut serta sebagai peserta dalam program KELANA Edisi Ketiga, menekankan pentingnya aksi nyata generasi muda dalam merespons ancaman perubahan iklim global.
"Menurut saya program seperti Kelana ini sangat penting karena generasi muda itu harus diajak untuk peduli akan lingkungan dan sustainability karena climate crisis dan global warming, so now is the time to act," kata Victoria.
Peran Anak Muda sebagai Kreator Edukatif
Melalui tema khusus "KELANA Java Overtrip", pemahaman peserta mengenai transportasi publik berkelanjutan juga dikaitkan dengan tantangan ekologi perkotaan secara menyeluruh, termasuk persoalan pengelolaan limbah dan sampah yang masih membutuhkan perhatian serius.
Para peserta dibekali kapasitas komunikasi agar mampu mengolah pengalaman lapangan dari pengelola MRT Jakarta dan pelestari lingkungan menjadi konten digital yang edukatif.
"Apa yang bisa dibagikan adalah aku bisa membagikan konten-konten kemudian aku bisa membagikan kepada teman-teman bagaimana kita sebagai generasi muda bisa mengolah sampah menuju ke Indonesia yang bersih di kemudian hari," ungkap Sheikha Lana, salah satu peserta program KELANA dari SMA Negeri 1 Depok.
Melalui program KELANA, KLH/BPLH berharap generasi muda tidak hanya memahami pentingnya beralih ke transportasi umum yang ramah lingkungan seperti MRT, tetapi juga menjadi agen perubahan yang aktif mengomunikasikan budaya hidup berkelanjutan di masyarakat.
(inh)

4 hours ago
4

















































